Langsung ke konten utama

Hilangnya Kesialan: Sebuah Flash Fiction oleh Zeralinda

Hilangnya kesialan

Zeralinda



Hari terakhir ujian, saatnya Ai pergi ke taman hiburan yang baru saja dibuka pada minggu

lalu. Dalam rangka merayakan "hilangnya kesialan" Yang membuatnya menderita selama

seminggu terakhir.

Wahana - wahana di taman hiburan membuat kesuntukkannya hilang. Selain wahana, Ai

juga berfoto dengan badut - badut yang menghibur. Dari badut pertama hingga badut

terakhir yang ia temui.

Namun, beberapa hari setelah itu, Ai merutuki dirinya

Ai merasa selalu diikuti oleh badut terakhir yang ditemuinya sewaktu ke taman hiburan. Hal

itu membuat Ai memilih menggunakan transportasi umum ketimbang jalan kaki. Ia berpikir

menggunakan transportasi umum tidak akan membuat seseorang yang mengikutinya tahu

akan rumahnya. Meskipun itu menguras uang jajannya, setidaknya ia bisa aman untuk

sementara waktu.

Dua minggu setelahnya, Ai merasa aman dan tidak ada yang mengikutinya lagi sehingga ia

memutuskan untuk berjalan kaki

Ternyata itu malah menjadi kesialan baginya. Badut itu berada di depan rumahnya. Dengan

membawa pisau kecil, ia menyapa gadis berusia 18 tahun itu.

"Hai cantik, sudah cukup bukan bersenang senangnya?" Oke, sekarang hidup dan mati

berada pada dirinya.




Zera Alinda R, lahir di kota pahlawan, 27 November 2008. Bersekolah di SMPN 3 tercinta. Sedang berusaha menulis walau tidak pernah terbit

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Antara Atas dan Bawah

Kezia Al-Shara Alunan gamelan berdenting lembut menyapu seluruh gundah gulana para penikmat paras ayu dan gemulainya lenggokan penari-penari pilihan malam ini. Lampu sorot tak membiarkan fokusnya terlepas, mengikuti kemana pun sang penari berlari kesana kemari. Semerbak wangi kasturi menguar dari rangkaian bunga asli yang tergeletak indah di atas kepala para penari. Pun dengan tubuhnya seakan sudah berendam dalam mata air suci penuh bunga tujuh rupa. Di sinilah Aku, di tengah panggung Pendopo Sanubaran. Menjadi pusat atensi hadirin tak terkecuali Gusti Pangeran Adipati Bagyo-raja dari Kesultanan Sanubaran. Dari seluruh penari yang ada di kota ini, Akulah yang paling sering dipanggil untuk menghibur tamu-tamu besar juga keluarga bangsawan yang sedang mengadaakan hajatan. Sampai akhirnya, Sekar Kinasih, namaku, sampai ke telinga Kesultanan Sanubaran. Aku diambil untuk menjadi penari inti milik Kesultanan Sanubaran. Mimpi seorang penari rakyat rendahan sepertiku akhirnya terea...

Lap Bekas Muntahan

  Abdullah Hamdani Husain Untuk seorang kawan, A.   “Lihat aku! Dengarkan aku! Tidak ada yang melihat dan mendengarku. Hanya ada diriku sendiri.” Dia merasa sesak. Alat bantu pernafasan yang melekat pada wajahnya membungkam hidung dan mulutnya. Meskipun itu adalah kunci baginya untuk tetap hidup, dia merasa itu adalah belenggu yang memaksanya merasakan sesuatu yang seharusnya begitu alami tapi juga menyengsarakan. “Bernafas adalah kegiatan yang menyakitkan,” bisiknya dalam hati, tatapannya kosong menghadap langit-langit. Dia bertanya pada dirinya sendiri, mempertanyakan arti hidup saat itu. Alat pernafasan terus bekerja tanpa ampun, memaksanya untuk menghirup dan menghembuskan udara meskipun rasanya seperti menusuk hatinya.   “Tapi, kalau tidak melakukannya aku tidak akan bisa bertahan hidup. Apakah hidup itu semerepotkan ini?” batin gadis itu, dengan perasaan yang campur aduk. "Apa surga itu tempat aku bisa bernafas dengan bebas?” Dia menghela nafas dalam-d...

Bianglala

Luluk Minatul Maula Aku selalu suka keramaian meski di sana harus sendirian. Alih-alih merasa bingung, justru kedamaian yang kurasa. Dengan hiruk-pikuk kendaraan, kebisingan suaranya, dan semua bentuk kepadatan itu, menyenangkan bagiku. Terkadang, semua itu kutemukan saat duduk di bangku taman dengan orang asing bermodal senyum dan anggukan, atau ketika naik komedi putar dan melambaikan tangan seolah punya kenalan, atau mengunjungi food court berbekal segelas es teh tawar untuk diam selama berjam-jam. Aku cukup berani melakukan semua itu sendiri sampai sebuah cerita mampir dan menjadi memo dalam hidupku. Meski kamu baik-baik saja setelah kehilangan, sebenarnya dapat kamu pertahankan jika kamu tidak sendirian. *** “Aku ke pasar malam dan akan pulang sebelum lampu mati, tolong sampaikan kalau perlu.”  Gadis bertubuh kecil itu berucap lirih pada adiknya di ruang tamu sambil mengenakan kaos kaki, mengambil sandal yang hampir putus saking lamanya terpakai, kemudian bangkit,...