Langsung ke konten utama

Di Antara Atas dan Bawah

Kezia Al-Shara

Alunan gamelan berdenting lembut menyapu seluruh gundah gulana para penikmat paras ayu dan gemulainya lenggokan penari-penari pilihan malam ini. Lampu sorot tak membiarkan fokusnya terlepas, mengikuti kemana pun sang penari berlari kesana kemari. Semerbak wangi kasturi menguar dari rangkaian bunga asli yang tergeletak indah di atas kepala para penari. Pun dengan tubuhnya seakan sudah berendam dalam mata air suci penuh bunga tujuh rupa. Di sinilah Aku, di tengah panggung Pendopo Sanubaran. Menjadi pusat atensi hadirin tak terkecuali Gusti Pangeran Adipati Bagyo-raja dari Kesultanan Sanubaran. Dari seluruh penari yang ada di kota ini, Akulah yang paling sering dipanggil untuk menghibur tamu-tamu besar juga keluarga bangsawan yang sedang mengadaakan hajatan. Sampai akhirnya, Sekar Kinasih, namaku, sampai ke telinga Kesultanan Sanubaran. Aku diambil untuk menjadi penari inti milik Kesultanan Sanubaran. Mimpi seorang penari rakyat rendahan sepertiku akhirnya terealisasikan. 

Kulihat lambaian tangan Gusti Pangeran Adipati Bagyo menyuruhku untuk mendekat. Tetap demgan lenggokan gemulai Aku menghampirinya penuh tunduk.

“Benar kamu yang Bernama Sekar Kinasih? Penari dengan paras tercantik di seluruh kota,” tanyanya dengan suara berat nan tegas.
 
“Inggih, benar, Gusti. Saya Sekar Kinasih sendiri,” jawabku lembut dan masih tertunduk hormat. 
   
“Mulai malam ini, kamu akan menjadi dayang pribadi Raden Mas Aryo Bratakusumo, putra mahkota kesultanan ini! Bersediakah kamu?”
   
“Kehormatan besar bagi Saya, Gusti,”
   
“Sepertinya indah parasmu telah berhasil mencuri perhatiannya, Layani dia layaknya kamu melayaniku! Turuti semua perintahnya seperti kamu menuruti perintahku! Jangan pernah memendam niat buruk untuk membelot dari keluargaku, karena nyawamu adalah bayaran dari segala tindak lakumu!” titahnya menggelegar.
   
“Inggih, Gusti,”

***
   
Setengah jam sudah Aku menekuni kegiatanku saat ini-memijat kaki Raden Mas Arya Bratakusumo yang menjadi majikanku sejak 2 hari yang lalu. Di luar perkiraanku, ternyata Raden Mas cukup baik kepadaku. Beliau tidak pernah membentak pun memukulku seperti yang biasa ayahnya lakukan kepadaku. 
   
“Sekar Kinasih, paras elok rupawanmu terlalu berharga untuk disia-siakan. Semesta semena-mena sekali menjadikanmu hanya sebagai penari kesultanan. Padahal, menurutku kamu lebih cocok menjadi bidadari kahyangan,” ujarnnya dengan nada merayu. Tak bisa kuelak bahwa mulut manisnya itu selalu berhasil membuatku tersipu malu. 
   
“Raden Mas bisa saja. Dibanding menjadi bidadari, Saya lebih tertarik menjadi calon permaisuri Raden Mas,” timpalku dengan senyum malu-malu. 
   
“Hahaha, ini yang kusuka darimu. Kamu berani membalas rayuanku tak seperti dayang-dayang lainnya yang hanya akan duduk tertunduk ketakutan di hadapanku. Kamu cukup menghiburku belakangan ini, katakanlah apa yang kamu inginkan untukku kukabulkan!”
   
“Saya ingin pergi melihat dan merasakan megahnya perpustkaan kesultanan, Raden Mas,” pintaku ragu. 
   
“Memangnya kamu bisa membaca?” tanya Raden Mas. Nada bicaranya terdengar sedikit meremehkan. Kutahan baik-baik rasa jengkel dalam hati.
   
“Tentu saja! Sejak kecil, ibunda Saya mengajarkan cara membaca kepada Saya,” terangku bangga.
   
“Fakta baru dari seorang Sekar Kinasih. Penari kalangan bawah yang tak buta huruf. Jika begitu, mari kuantarkan dirimu ke tempat yang kamu mau!” 
   
Aku berjingkat kegirangan yang sedetik kemudian disusul dengan gelak tawa Raden Mas. Membuatku tersadar dan segera menutupi buncah Bahagia di dada. 
   
“Tak apa. Kamu bisa bebas berekspresi di hadapanku. Aku menyukainya,” ujarnya seraya mengusap puncak kepalaku. Aku hanya tersenyum manis menanggapi perkataan dan perlakuan lembutnya terhadapku. Mungkin juga menahan mati-matian perasaan yang memeluk erat hatiku. Aku berjalan perlahan di belakang tubuh tinggi kekarnya. Mengikuti dirinya yang menuntunku untuk sampai ke tempat yang selama ini hanya bisa kuangan. 
   
Krieettt…
   
Suara derit engsel pintu jati kuno yang kuyakini sudah berumur ribuan tahun menyambut kedatangan kami berdua. Terbuka sudah ruangan yang selama ini hanya kutatap penuh harap pintunya. Aroma lembaran-lembaran kertas lama diiringi semerbak wangi dupa di setiap sudut ruangan seakan mendominasi indra penciumanku. Kulayangkan pandangan menyapu sekeliling ruangan. Pupil mata cokelat terangku membesar, mulutku ternganga. Ini sungguh menakjubkan! Puluhan rak berbahan dasar sama seperti pintu ruangan ini berjajar rapih. Menyimpan ribuan buku di dalamnya yang tertata cantik. Kusentuhkan telunjukku pada salah satu buku bersampul bludru merah. Bersih! Sama sekali tidak ada debu yang menempel. ‘Bagaimana caranya para abdi di sini membersihkan ribuan buku di perpustakaan yang begitu besar ini?’ batinku bertanya-tanya. 
   
“Biasanya, ayah memerintahkan puluhan abdi untuk membersihkan seluruh buku di sini setidaknya seminggu sekali,” jelasnya tiba-tiba seakan mengetahui isi benakku. Aku hanya mengangguk kecil dan lebih memilih untuk berjalan mengitari seluruh ruangan-tak ingin meninggalkan satu rak pun untuk kutelusuri.
   
“Raden Mas, maaf bila Saya lancang. Namun, apakah boleh jika Saya memohon satu permintaan lagi?” tanyaku perlahan, takut menyinggung hatinya. 
   
“Tentu, Sekar! Mintalah apapun yang kamu inginkan! Aku bukan jin botol yang hanya mengabulkan tiga permintaan,” balasnya di akhiri candaannya seperti biasa.
   
“Jikalau begitu, bolehkah Saya datang kemari usai mengerjakan seluruh perintah Raden Mas?”
   
“Itu saja? Kalau perlu, aku akan memindahkan ruang kerjaku kemari agar kita bisa menghabiskan lebih banyak waktu di sini,”
   
“Saya akan merasa jauh lebih senang lagi apabila mendapat kesempatan untuk bertukar pikiran bersama Raden Mas,”
   
Raden Mas berbalik badan dan berjalan meninggalkanku di antara rak-rak. ‘Apakah Aku sudah kelewatan dan menyinggung perasaannya? Bodoh kamu, Sekar! Jangan gegabah! Sedikit lagi lalu selesai,’ batinku merutuki kalimat terakhir yang sepertinya terkesan melunjak. 
   
“Sekar Kinasih! Kemarilah!” panggilnya dengan suara tinggi. Aku segera berlari menuju sumber suara. Terlihat Raden Mas tengah duduk di salah satu bangku khusus untuk membaca. 
   
“Katanya ingin berdiskusi? Perkara apa yang menarik perhatianmu? Apakah itu pasal ekonomi keuangan? Sejarah? Atau budaya?” luncuran pertanyaannya yang bertubi menandakan ketidaksabarannya bertukar pikiran denganku. Entah didasari dengan kegemarannya berdiskusi atau sekedar ingin tahu tentang isi pikiran penari kalangan bawah sepertiku. Jujur, Aku terkejut dengan tindakannya. Kukira beliau tersinggung atas permintaanku. Faktanya, beliau malah tampak begitu semangat untuk menghadapi dan menanggapi opini-opiniku.
   
“Strata sosial dan pendidikan di balik Kesultanan Sanubaran. Saya tertarik membahasnya, Raden Mas,” ucapku mantap penuh percaya diri. 
   
“Menarik! Silakan dimulai. Dalam forum ini, kuhempaskan seluruh latar belakang dan gelarku. Kamu bebas menyampaikan opinimu terkait kesultanan ini,” jawabnya tak kalah tegas. 
   
“Terimakasih atas kesempatannya, Raden Mas. Baik, bisa kita lihat bersama di sini bahwa strata sosial Kesultanan Sanubaran menjadi halangan terbesar majunya pendidikan para rakyatnya. Dimana seseorang bisa sekolah hanya jika ia memiliki darah bangsawan yang mengalir dalam tubuhnya. Sedangkan para rakyat kalangan bawah., rakyat jelata, tak bisa sedikitpun menyicipi nikmatnya mempelajari segala bidang keilmuwan yang bahkan penemu ilmu tersebut sendiri tak pernah memberikan batasan tertentu untuk mempelajari ilmunya,” jelasku mengawali.
   
“Biarlah para bangsawan saja yang berpikir dan belajar. Tugas rakyat kalangan bawah hanya bekerja untuk para bangsawan yang belajar. Sama dapat upahnya dan cukup adil, bukan?” ucap Raden Mas menanggapi. Aku berjalan menuju salah satu buku yang berjudul ‘Persamaan dan Hak Asasi Manusia’.
   
“Lalu, membiarkan kalangan atas melancarkan tindak asusilanya pada kalangan bawah karena mereka dengan mudahnya dibodohi? Dimana letak keadilannya, Raden Mas?” sanggahku mantap.

“Ayolah, Kar! Tuhan menciptakan atas dan bawah. Memang sudah takdir yang atas dipuja dan yang bawah diinjak,” jawabnya frustasi.

“Tunjukkan kepada Saya pernyataan Tuhan pasal ‘atas dan bawah’ yang Raden Mas katakan! Itu hanya presepsi kalian, para kalangan atas yang selalu semena-mena memaknai kata ‘bawah’.

Manusia – manusia seperti kalian lupa bahwa kita dilahirkan dan hidup di bawah. Bumi bukan langit. Bahkan, asal mula kita pun dari bawah. Dari tanah. Tempat terakhir kita untuk kembali pun ke bawah. Terkubur di dalam tanah. Hakikat manusia adalah dari bawah, Raden Mas. Bahkan, kejayaan Kesultanan Sanubaran tak akan ada tanpa nenek moyang kalian yang membangunnya dari bawah. Dari titk nol. 

Kita manusia, kalangan atas pun kalangan bawah adalah sama. Apa gunanya kalian mempelajari buku buku tebal membahas hak asasi manusia jika tidak diterapkan!” Aku berbicara dengan nada meninggi.
  
“Kami menerapkannya pada sesama kalangan atas, Sekar!” belanya.
  
“Lalu, kami yang dibawah ini apa? Hewan, kah? Pohon, kah? Apakah mata kalian tak bisa melihat kesamaan wujud kami dengan kalian? Manusia, kami juga manusia. Maka, hukum HAM pun berlaku atas kalangan bawah., Raden Mas!” bentakku seraya mengacungkan buku tebal di tangan. 
   
Raden Mas diam tak berkutik. Mungkin telah kehilangan sanggahan-sanggahan bodohnya lagi. Kepalanya menunduk dalam tak berani diangkat. Seakan jika melihat ke depan, beliau akan mendapati para kalangan bawah yang menuntut keadilan hak asasi manusia. 
   
“Raden Mas, Saya tahu benar bahwa di lubuk hati Raden Mas yang paling dalam ada secercah keinginan untuk membebaskan kami dari keterbatasan ini. Raden Mas adalah orang yang baik. Buktinya, Saya diperbolehkan untuk meminta hal-hal yang sebelumnya tampak tak mungkin. Tentu, Saya merasa teramat bahagia atas kemurahan hari Raden Mas. Namun, apakah Raden Mas tak ingin pula melihat ratusan kebahagiaan hanya dengan satu kebijakan yang Raden Mas nyatakan?” dengan hati-hati Aku berusaha membujuknya. Semua ini demi keadilan semata.
   
“Aku hanyalah putra mahkota, Sekar. Semua kehendak ada di tangan ayahku,” jawabnya putus asa. 
   
“Raden Mas pasti bisa. Perjuangkan seluruh kebahagiaan rakyat Kesultanan Sanubaran ini. Saya bisa melihat kebahagiaan di mata Raden Mas saat melihat Saya bahagia. Tidakkah Raden Mas bayangkan jika melihat ratusan kebahagiaan lainnya?”
   
“Benar, Sekar. Aku harus berusaha memperjuangkan keadilan kalangan bawah yang tertindas. Apa salahnya jika kita kalangan atas dan bawah bersama-sama belajar di sekolah. Bukankah itu akan membuat Kesultanan Sanubaran semakin jaya karena hilangnya kebodohan dari seluruh penduduknya? Akan kusampaikan seluruh perkataanmu, hasil diskusi kita hari ini kepada ayahku, Gusti Pangeran Adipati Bagyo!” tuturmya mencapai ultimatum terakhir.
   
Aku bernafas lega mendengarnya. Bersyukur kepada Tuhan yang telah meluluhkan hati seorang Raden Mas Aryo Bratakusumo yang terkenal keras kepala di mata masyarakat. Menurutku, beliau hanya digelapkan tuntutan keluarga atas tahtanya sampai hitamlah sudah hati beliau dibuatnya. Aku bertekad untuk mengembalikan cahaya dan kehangatan dalam hatinya. Aku tak akan membiarkan perjuangan nenek moyangku, nenek moyang kesultanan ini dihancurkan oleh segelintir manusia yang digelapkan kekuasaan. Memang kesultanan ini sudah tak lagi berada dalam pelukanku. Tapi, Aku, Sekar Kinasih. Ralat. Raden Ayu Sekar Kinasih binti Bagyo akan memperjuangkan keadilan atas seluruh rakyat kesultanan walaupun tanpa gelar bangsawan juga tanpa pengakuan sosok ayah atas anak perempuannya yang dibuang karena kesalahannya sendiri terhadap perempuan desa yang berhasil membuatnya terlena akan cinta yang sementara, ibundaku tercinta. 

Cerpen karya Kezia Al-Shara ini mendapatkan juara 1 dalam Lomba Cipta Cerpen FLS2N Tingkat Provinsi tahun 2023.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lap Bekas Muntahan

  Abdullah Hamdani Husain Untuk seorang kawan, A.   “Lihat aku! Dengarkan aku! Tidak ada yang melihat dan mendengarku. Hanya ada diriku sendiri.” Dia merasa sesak. Alat bantu pernafasan yang melekat pada wajahnya membungkam hidung dan mulutnya. Meskipun itu adalah kunci baginya untuk tetap hidup, dia merasa itu adalah belenggu yang memaksanya merasakan sesuatu yang seharusnya begitu alami tapi juga menyengsarakan. “Bernafas adalah kegiatan yang menyakitkan,” bisiknya dalam hati, tatapannya kosong menghadap langit-langit. Dia bertanya pada dirinya sendiri, mempertanyakan arti hidup saat itu. Alat pernafasan terus bekerja tanpa ampun, memaksanya untuk menghirup dan menghembuskan udara meskipun rasanya seperti menusuk hatinya.   “Tapi, kalau tidak melakukannya aku tidak akan bisa bertahan hidup. Apakah hidup itu semerepotkan ini?” batin gadis itu, dengan perasaan yang campur aduk. "Apa surga itu tempat aku bisa bernafas dengan bebas?” Dia menghela nafas dalam-d...

Bianglala

Luluk Minatul Maula Aku selalu suka keramaian meski di sana harus sendirian. Alih-alih merasa bingung, justru kedamaian yang kurasa. Dengan hiruk-pikuk kendaraan, kebisingan suaranya, dan semua bentuk kepadatan itu, menyenangkan bagiku. Terkadang, semua itu kutemukan saat duduk di bangku taman dengan orang asing bermodal senyum dan anggukan, atau ketika naik komedi putar dan melambaikan tangan seolah punya kenalan, atau mengunjungi food court berbekal segelas es teh tawar untuk diam selama berjam-jam. Aku cukup berani melakukan semua itu sendiri sampai sebuah cerita mampir dan menjadi memo dalam hidupku. Meski kamu baik-baik saja setelah kehilangan, sebenarnya dapat kamu pertahankan jika kamu tidak sendirian. *** “Aku ke pasar malam dan akan pulang sebelum lampu mati, tolong sampaikan kalau perlu.”  Gadis bertubuh kecil itu berucap lirih pada adiknya di ruang tamu sambil mengenakan kaos kaki, mengambil sandal yang hampir putus saking lamanya terpakai, kemudian bangkit,...