Langsung ke konten utama

Sajak-sajak oleh Gie

Pesan Dari Beranda 

Ku rapalkan kata demi cinta
Ku susun satu per satu bagai bongkar pasang, 
Tuk ku jadikan sebuah untaian puisi, untuknya 
Dari kalbu yang sedang merana

Peluh kisah bersimbah kata berjuta luka, 
Hanya sebagai bahan tuk meluapkan perasaan,
Sekedar mampir, bagaikan angkot senja 
Yang melaju perlahan lalu pergi

Kubuka laci, dan serangkaian bintang keluar 
Tergerus angin, 
Ku ambil buku merah muda yang usang, 
Dan ku baca dalam dingin

Terdengar gelak tawa yang memikuk suasana 
di beranda.
Ternyata para bintang 
Sedang mengintip di celah angkasa petang

Hanya nestapa dengan lara
Yang tak kunjung reda, 
Purnama pun jua tertawa 
Melihatku yang terus membungkam rasa

Begitu meluap-luap dalam gerobak cinta, 
Hingga tak ujar sampai meluber 
Meluapkan rasa, 
Di segala arah

Di bawah purnama, 
Kali ini kutitipkan lewat malaikat kecil 
Yang bertengger, 
Di pohon kenangan

Ku kirimkan kau pesan rasa cintaku 
Yang t'lah tak bisa lagi ku endapkan
Dalam kalbu. Ku harap pesanku sampai di teras
Jendela matamu, 
Dan. Semoga kau ulurkan hingga Relung hatimu


Cinta Pertama

Ketika sulur cahaya fajar merekah 
Ku terkesiap akan parasmu.
Seakan-akan kau tersusup 
Akan cahaya fajar kala itu.

Di sebuah dermaga agung
Ku temukan cinta,
Di balik awan jingga merana, membuatku
Terpanah akan sorot matamu

Di saat mataku menyusuri senja, 
Menapaki awan, menebas lautan
Begitu syahdu, tapi
Sial. Mataku tersesat saat meniliki matamu
Matamu, bagai rintik hujan di kala senja
Sungguh hening, juga menyejukkan hati

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Antara Atas dan Bawah

Kezia Al-Shara Alunan gamelan berdenting lembut menyapu seluruh gundah gulana para penikmat paras ayu dan gemulainya lenggokan penari-penari pilihan malam ini. Lampu sorot tak membiarkan fokusnya terlepas, mengikuti kemana pun sang penari berlari kesana kemari. Semerbak wangi kasturi menguar dari rangkaian bunga asli yang tergeletak indah di atas kepala para penari. Pun dengan tubuhnya seakan sudah berendam dalam mata air suci penuh bunga tujuh rupa. Di sinilah Aku, di tengah panggung Pendopo Sanubaran. Menjadi pusat atensi hadirin tak terkecuali Gusti Pangeran Adipati Bagyo-raja dari Kesultanan Sanubaran. Dari seluruh penari yang ada di kota ini, Akulah yang paling sering dipanggil untuk menghibur tamu-tamu besar juga keluarga bangsawan yang sedang mengadaakan hajatan. Sampai akhirnya, Sekar Kinasih, namaku, sampai ke telinga Kesultanan Sanubaran. Aku diambil untuk menjadi penari inti milik Kesultanan Sanubaran. Mimpi seorang penari rakyat rendahan sepertiku akhirnya terea...

Lap Bekas Muntahan

  Abdullah Hamdani Husain Untuk seorang kawan, A.   “Lihat aku! Dengarkan aku! Tidak ada yang melihat dan mendengarku. Hanya ada diriku sendiri.” Dia merasa sesak. Alat bantu pernafasan yang melekat pada wajahnya membungkam hidung dan mulutnya. Meskipun itu adalah kunci baginya untuk tetap hidup, dia merasa itu adalah belenggu yang memaksanya merasakan sesuatu yang seharusnya begitu alami tapi juga menyengsarakan. “Bernafas adalah kegiatan yang menyakitkan,” bisiknya dalam hati, tatapannya kosong menghadap langit-langit. Dia bertanya pada dirinya sendiri, mempertanyakan arti hidup saat itu. Alat pernafasan terus bekerja tanpa ampun, memaksanya untuk menghirup dan menghembuskan udara meskipun rasanya seperti menusuk hatinya.   “Tapi, kalau tidak melakukannya aku tidak akan bisa bertahan hidup. Apakah hidup itu semerepotkan ini?” batin gadis itu, dengan perasaan yang campur aduk. "Apa surga itu tempat aku bisa bernafas dengan bebas?” Dia menghela nafas dalam-d...

Bianglala

Luluk Minatul Maula Aku selalu suka keramaian meski di sana harus sendirian. Alih-alih merasa bingung, justru kedamaian yang kurasa. Dengan hiruk-pikuk kendaraan, kebisingan suaranya, dan semua bentuk kepadatan itu, menyenangkan bagiku. Terkadang, semua itu kutemukan saat duduk di bangku taman dengan orang asing bermodal senyum dan anggukan, atau ketika naik komedi putar dan melambaikan tangan seolah punya kenalan, atau mengunjungi food court berbekal segelas es teh tawar untuk diam selama berjam-jam. Aku cukup berani melakukan semua itu sendiri sampai sebuah cerita mampir dan menjadi memo dalam hidupku. Meski kamu baik-baik saja setelah kehilangan, sebenarnya dapat kamu pertahankan jika kamu tidak sendirian. *** “Aku ke pasar malam dan akan pulang sebelum lampu mati, tolong sampaikan kalau perlu.”  Gadis bertubuh kecil itu berucap lirih pada adiknya di ruang tamu sambil mengenakan kaos kaki, mengambil sandal yang hampir putus saking lamanya terpakai, kemudian bangkit,...