Langsung ke konten utama

Mahameru


oleh Sanento Yuliman, Haryadi Suadi T, T. Sutanto, dan Dendi Sudiana


Yang mencintai bumi dan udara jernih
yang mencintai terbang burung-burung
yang mencintai ketinggian dan keluasan
yang mencintai langit
mereka mengenangmu dan tengadah ke gunung-gunung
mereka menatap Mahameru
mereka berkata: ke sana Soe Hok Gie
mendaki dan pergi
dan pulang
ke pangkuan bintang-bintang

Dan bunga-bunga terindah negeri ini
disebarkan sekali lagi
sementara saputangan menahan tangis
sementara Desember menaburkan gerimis



(Puisi ini untuk mengenang kepergian Soe Hok-Gie)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Antara Atas dan Bawah

Kezia Al-Shara Alunan gamelan berdenting lembut menyapu seluruh gundah gulana para penikmat paras ayu dan gemulainya lenggokan penari-penari pilihan malam ini. Lampu sorot tak membiarkan fokusnya terlepas, mengikuti kemana pun sang penari berlari kesana kemari. Semerbak wangi kasturi menguar dari rangkaian bunga asli yang tergeletak indah di atas kepala para penari. Pun dengan tubuhnya seakan sudah berendam dalam mata air suci penuh bunga tujuh rupa. Di sinilah Aku, di tengah panggung Pendopo Sanubaran. Menjadi pusat atensi hadirin tak terkecuali Gusti Pangeran Adipati Bagyo-raja dari Kesultanan Sanubaran. Dari seluruh penari yang ada di kota ini, Akulah yang paling sering dipanggil untuk menghibur tamu-tamu besar juga keluarga bangsawan yang sedang mengadaakan hajatan. Sampai akhirnya, Sekar Kinasih, namaku, sampai ke telinga Kesultanan Sanubaran. Aku diambil untuk menjadi penari inti milik Kesultanan Sanubaran. Mimpi seorang penari rakyat rendahan sepertiku akhirnya terea...

Genealogi dan Sanad Sastra Pesantren oleh Aguk Irawan

(Sedikit Catatan dari Simposium Sastra Pesantren di Tebuireng 2-4 Desember 2022)  Kehadiran sastra pesantren tidak hanya hasil dari sebuah komunitas tertentu di era ini, bukan juga dari dialektika kesusastraaan modern, yang itu karyanya hanya bisa diidentifikasi melalui standart kontemporer, misal koran, majalah, buku atau pementasan di gedung kesenian kota, tapi sastra pesantren adalah soal mata rantai dari kekayaan kita yang berlimpah sejak di masa lalu yang itu kehadirannya bersaamaan dengan sejarah pendirian pesantren.  Misal pendirian pesantren Ampel Denta diiringi dengan penyaduran kitab Kakawin Selakrama Aguron-Guron karya Empu Prapanca menjadi kitab Sastra Pesantren ala Islam Pesisir seperti Serat Dewa Ruci Karya Sunan Kalijaga, atau Suluk Wijil gubahan dari kitab Ashidiq karya Abu Said AlKhair (w. 899 M) pendirian pesantren Giri juga menghasilkan karya sastra kojah-kojahan (pujian), serat dan babad, yang diadaptasi dari kitab Kakawin Nitrisutri, Samyuta Nikaya dll, y...

Lap Bekas Muntahan

  Abdullah Hamdani Husain Untuk seorang kawan, A.   “Lihat aku! Dengarkan aku! Tidak ada yang melihat dan mendengarku. Hanya ada diriku sendiri.” Dia merasa sesak. Alat bantu pernafasan yang melekat pada wajahnya membungkam hidung dan mulutnya. Meskipun itu adalah kunci baginya untuk tetap hidup, dia merasa itu adalah belenggu yang memaksanya merasakan sesuatu yang seharusnya begitu alami tapi juga menyengsarakan. “Bernafas adalah kegiatan yang menyakitkan,” bisiknya dalam hati, tatapannya kosong menghadap langit-langit. Dia bertanya pada dirinya sendiri, mempertanyakan arti hidup saat itu. Alat pernafasan terus bekerja tanpa ampun, memaksanya untuk menghirup dan menghembuskan udara meskipun rasanya seperti menusuk hatinya.   “Tapi, kalau tidak melakukannya aku tidak akan bisa bertahan hidup. Apakah hidup itu semerepotkan ini?” batin gadis itu, dengan perasaan yang campur aduk. "Apa surga itu tempat aku bisa bernafas dengan bebas?” Dia menghela nafas dalam-d...